SINOPSIS “ORANG TUA KITA JUGA PEJUANG”
Hallo
Sahabat’
Didalam sinopsis ini
menceritakan tentang bagaimana orang tua
kita yang susah payah untuk memperjuangkan untuk bagaimana keturunannya menjadi
orang yang dipandang dan pintar , dan bias membuktikan bahwa anak meraka bias berkarya
dan sukses. Karena kedua orang tua kita
juga berani berkorban untuk mempertaruhkan nyawanya demi anaknya, karena mereka
berangkat kerja dari pagi terkadang dia pulang sampai malam dan terkadang tak
tertentu mereka pulang untuk menapkahi anaknya.
Tak perlu mereka akhirnya
merelakan waktu mereka untuk bagaimana menapkahi anaknya karena tidak bidak bias
kita pungkiri sebagai anak dan tak bias bagaimana kita membalas jasa mereka sebagai
orang tua kita.
Satu kata yang mungkin mudah sekali
mengucapkannya, tapi tidak semudah melakukan.Terkadang kita sudah merasa
berkorban demi orang lain, namun tak jarang apa yang kita lakukan tidak
dianggap sama sekali.
Sejatinya berkorban itu erat dengan kata
keikhlasan. Tak perlu menuntut orang untuk menganggap dan menilai apa yang
sudah kita lakukan. Tapi, belajarlah berbuat sebaik mungkin dengan tujuan
menabung bekal kebaikan.
Ya, karena alasan itulah seringkali saya
hanya bisa tersenyum ketika orang-orang menganggap saya sudah berkorban untuk
orang-orang terdekat. Saya hanya berbuat sebagaimana saya ingin diperlakukan.
Tapi, ketika orang menilai lebih, cukuplah pujian itu dikembalikan kepada yang
lebih berhak untuk dipuji.
Karena bagi saya, apa yang saya lakukan untuk kedua
orangtua, belum setimpal dengan apa yang sudah mereka lakukan. Saya hanya bisa
meringankan beban dalam hitungan tahun. Tapi, kedua orangtua saya sudah
berkorban dari sejak saya belum terlahir ke dunia ini.
Dalam hidup saya, Mamah dan Bapaklah yang sudah sangat
berjasa dan banyak berkorban untuk saya. Diberi cobaan penyakit sejak kecil
hingga dewasa membuat Mamah dan Bapak direpotkan oleh saya. Bukan hanya
berkorban materi, tapi pikiran dan waktu pun habis tercurahkan untuk saya.
Mamah rela tidak tidur bermalam-malam ketika penyakit saya
sedang kambuh. Mamah juga rela menggendong saya kemana-kemana saat saya
terkulai lemas karena sakit. Beliau dengan telaten mengurus saya setiap saat.
Bahkan Mamah kehilangan me time nya
karena waktunya habis mengurusi saya
Satu kata yang mungkin mudah sekali
mengucapkannya, tapi tidak semudah melakukan.Terkadang kita sudah merasa
berkorban demi orang lain, namun tak jarang apa yang kita lakukan tidak
dianggap sama sekali.
Sejatinya berkorban itu erat dengan kata keikhlasan. Tak perlu menuntut orang untuk menganggap dan menilai apa yang sudah kita lakukan. Tapi, belajarlah berbuat sebaik mungkin dengan tujuan menabung bekal kebaikan.
Ya, karena alasan itulah seringkali saya hanya bisa tersenyum ketika orang-orang menganggap saya sudah berkorban untuk orang-orang terdekat. Saya hanya berbuat sebagaimana saya ingin diperlakukan. Tapi, ketika orang menilai lebih, cukuplah pujian itu dikembalikan kepada yang lebih berhak untuk dipuji.
Karena bagi saya, apa yang saya lakukan untuk kedua orangtua, belum setimpal dengan apa yang sudah mereka lakukan. Saya hanya bisa meringankan beban dalam hitungan tahun. Tapi, kedua orangtua saya sudah berkorban dari sejak saya belum terlahir ke dunia ini.
Dalam hidup saya, Mamah dan Bapaklah yang sudah sangat berjasa dan banyak berkorban untuk saya. Diberi cobaan penyakit sejak kecil hingga dewasa membuat Mamah dan Bapak direpotkan oleh saya. Bukan hanya berkorban materi, tapi pikiran dan waktu pun habis tercurahkan untuk saya.
Mamah rela tidak tidur bermalam-malam ketika penyakit saya sedang kambuh. Mamah juga rela menggendong saya kemana-kemana saat saya terkulai lemas karena sakit. Beliau dengan telaten mengurus saya setiap saat. Bahkan Mamah kehilangan me time nya karena waktunya habis mengurusi saya
Sejatinya berkorban itu erat dengan kata keikhlasan. Tak perlu menuntut orang untuk menganggap dan menilai apa yang sudah kita lakukan. Tapi, belajarlah berbuat sebaik mungkin dengan tujuan menabung bekal kebaikan.
Ya, karena alasan itulah seringkali saya hanya bisa tersenyum ketika orang-orang menganggap saya sudah berkorban untuk orang-orang terdekat. Saya hanya berbuat sebagaimana saya ingin diperlakukan. Tapi, ketika orang menilai lebih, cukuplah pujian itu dikembalikan kepada yang lebih berhak untuk dipuji.
Karena bagi saya, apa yang saya lakukan untuk kedua orangtua, belum setimpal dengan apa yang sudah mereka lakukan. Saya hanya bisa meringankan beban dalam hitungan tahun. Tapi, kedua orangtua saya sudah berkorban dari sejak saya belum terlahir ke dunia ini.
Dalam hidup saya, Mamah dan Bapaklah yang sudah sangat berjasa dan banyak berkorban untuk saya. Diberi cobaan penyakit sejak kecil hingga dewasa membuat Mamah dan Bapak direpotkan oleh saya. Bukan hanya berkorban materi, tapi pikiran dan waktu pun habis tercurahkan untuk saya.
Mamah rela tidak tidur bermalam-malam ketika penyakit saya sedang kambuh. Mamah juga rela menggendong saya kemana-kemana saat saya terkulai lemas karena sakit. Beliau dengan telaten mengurus saya setiap saat. Bahkan Mamah kehilangan me time nya karena waktunya habis mengurusi saya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar