TERIMAKASIH
GURUKU
karya : imam ansori dista
PEMERAN:
1.
AZIM : KEPALA SEKOLAH
2.
AZAM : PAK SYAMSUL (GURU SENI
BUDAYA
3.
AINUN : BU NINGSIH (GURU
MATEMATIKA)
4.
DONI : MURID
5.
MALA : MURID
6.
MAULIYA : MURID
7.
ZAZA : NARATOR
Di
sebuah kelas, di sebuah sekolah, di suatu daerah, di suatu tempat, siswa kelas
xii ipa 3 sedang berada di kelas. Masuklah seorang guru seni budaya untuk
mengajar.
Pak Syamsul : “selamat pagi anak-anak!”
Doni : (menguap) “hoaammm”
Pak Syamsul : “pagi ini materi kita adalah ‘Menggambar
Pemandagan’.”(menngambar dan menjelaskan)
Dua jam berlalu. Akhirnya bel
pergantian pelajaran berbunyi. TEEET. TEEET.
Pak Syamsul : “saya akhiri pelajaran hari ini ya!”
Murid : (diam)
Pak Syamsul : “ ada pertanyaan?”
Mala &
Mauliya : “dong ayok bapak keluar!”
Pak Syamsul : kalian itu benar-benar tidak bisa
menghargai guru! Saya permisi!
Di ruang guru..
Pak Syamsul : “pak, saya tidak tahan dengan siswa kelas XII IPA 3. Saya
tidak ingin menjadi
wali
kelas xii ipa 3 lagi.”
Pak
Kepsek : “tapi tidak ada guru yang
sanggup untuk menjadi wali kelas XII IPA 3 selain
Anda”
Bu Ningsih : “saya siap pak!”
Pak Kepsek : “benarkah? Kalau begitu, mulai besok
anda Akan menjadi wali kelas XII IPA 3”
Ibu Ningsih : “baik pak! Saya akan berusaha membimbng
mereka.”
Pak Kepsek : “terimakasih Bu Ningsih”
Jam 10:30 WITA. Bel berbunyi tanda
masuk kelas. Masuklah seorang guru matematika ke kelas XII IPA 3.
Bu Ningsih : “selamat pagi anak-anak.”
Murid : “pagi buk!”
Bu Ningsih : “saya adalah wali kelas yang baru di
kelas ini.”
Doni : “ibu jinak kan?”
Mala : “ibu gak makan orang kan?”
Mauliya :”ibu
gigit nggak?”
Bu Ningsih :”diam semuanya! Barang siapa yang melanggar
peraturan di kelas ini akan saya kurangi
nilainya. Dan jangan harap kalian bisa
lulus!”
Saat pelajaran sedang berlangsung..
Mauliya : (memperbaiki make up)
Bu Ningsih : (melihat name tag) “Mauliya Prihandini!
Nilaimu saya kurangi 1 poin karena tidak memerhatikan guru!”
Mauliya : (memgang tangan guru) ampun buk! Saya
tidak akan mengulanginya lagi!”
Bu Ningsih : “membantah! Nilai dikurangi 3 poin!”
Murid : (diam)
Bu Ningsih : “pelajaran saya akhiri. Saya permisi”
Di ruang Kepala sekolah, ibu ningsih
dipanggil bapak kepala sekolah karena siswanya yang bermasalah.
Pak Kepsek : “maaf buk! Siswa atas nama Ahmad doni
azani harus dikeluarkan karena menantang pak syamsul berkelahi.”
Bu Ningsih : “maaf pak! Tolong beri saya waktu! Saya
akan membimbingnya”
Pak Kepsek : “tapi masalah ini sudah tidak bisa
ditoleransi lagi buk.”
Bu Ningsih :”tolonglah pak. Jka dia berbuat masalah
lagi, saya rela dikeluarkan.”
Pak Kepsek : “baiklah jika itu yang ibu inginkan.”
Sementara itu, di luar ruang kepala
sekolah, 3siswa XII IPA 3 terlihat sedang menguping pembicaraan bapak kepala
sekolah dan ibu ningsih. Mendengar apa yang dibicarakan oleh bapak kepala
sekolah dan wali kelas mereka, wajah mereka terlihat muram.
Mala : “aduh sayang, kamu ngapain
sih pake nantang Pak Syamsul segala! Dia itu bukan level kamu.”
Mauliya : “tau ah doni! Sekarang Ibu Ningsih
jadi kena masalah gara-gara kamu.”
Doni : “ya maaf. Aku mana tau
masalahnya jadi kayak gini.”
Dengan wajah muram, mereka kembali
ke kelas.
Saat jam pelajaran matematika, ibu ningsih
memasuki ruang kelas XII IPA 3. Suasana di kelas itu sangat tenang. Ini baru
pertama kalinya dalam sejarah.
Mala : (berdiri) maafkan kami buk! Selama ini kami sering membantah dan
membicarakan ibu dari belakang”
Doni : “saya juga buk! Karena saya,
ibu jadi kena masalah”
Bu Ningsih : (terharu) kalian harus sering-sering
memerhatikan pelajaran semua guru. Ibu tahu kalian semua baik. Hwaiting!”
Lima tahun kemudian, berkat doa dan bimbingan dari
semua guru, kini semua siswa kelas XII IPA 3 menjadi sukses. Mala menjadi seorang dokter
kandungan, Doni menjadi kepala sekolah dan Mauliya kini menjadi seorang artis
internasional. Setelah 5 tahun menjaling
hubungan asmara, doni dan mala kini akhirnya sudah membina rumah tangga dan
memiliki 2 anak kembar laki-laki. Dan Mauliya Prihandini kini telah menikah
dengan seorang pengusaha barang elektronik asal Korea.